Winnie The Pooh

Menulis memang menyenangkan, bisa berbagi cerita dan pengalaman, informasi dan info kejadian sekitar.

Wednesday, 30 September 2015

Kabut Asap di Kota ku

Gerbang masuk Pangkalan TNI Lanud Palembang
Foto diatas....adakah yang tahu....?? Tentunya tidak asing bagi warga Palembang, apalagi yang sudah pernah tinggal di daerah Sukarami...hehee.....
Pangkalan TNI AU....yahh benar sekali...itu adalah jalan menuju Markas Besar Pangkalan TNI AU Palembang...Jalan Adi sucipto KM.10 Palembang.

Jam di tanganku menunjukkan pukul 09.00 WIB, seharusnya pada cuaca normal sekarang sudah siang, dan matahari pun seharusnya sudah bersinar terang memberikan sinarnya untuk smua makhluk hidup. Namun dipagi ini, matahari nampak bersembuyi, oohh apakah karena dia tertutup oleh awan...??? Namun sepertinya tidak....

aaahh aku tahu....walau sudah siang, ternyata masih banyak kabut dan belum juga hilang, bukankah seharusnya kabut itu hanya dipagi hari ya?? Bukankah sekarang sudah menjelang siang?
ternyata eh ternyata....ini bukanlah seperti yang kita lihat, kabut dipagi hari yg seperti tetesan salju, dan bisa disebut embun...itu sungguh sangat menyejukkan, dan akan terasa segar bila kita menghirupnya, namun yang ini adalah kabut asap...yahh benar...kabut asap yang bisa menyesakkan pernapasan dan menghalau jarak pandang dan membuat mata pedih....

Meski hari sudah siang namun kabut asap masih lumayan tebal
Sudah beberapa waktu ini, mungkin pekan, mungkin juga bulan, bencana kabut asap terjadi di Kota ku, Kota Palembang Provinsi Sumatera Selatan. Aku pikir awalnya kabut asap terjadi hanya karena kemarau panjang dan belum juga turun hujan, namun penyebab lainnya adalah banyaknya terjadi kebakaran lahan hutan, seperti diberitakan di media, bahwa di Provinsi Sumatera Selatan terjadi banyak kebakaran lahan hutan dan juga lahan gambut, dan yang sulit dipadamkan adalah lahan gambut, karena lahan gambut bisa mencapai 8 meter, sehingga jika dipadamkan, yang mati hanya permukaan dan belum sampai ke bawah tanah, katanya sih begituuu....hehee....

Perlu diketahui, menurut info yang aku dapat, lahan gambut di Sumsel mencapai 1,4 juta hektar. Bila musim kemarau berkepanjangan lahan gambut bisa terbakar dengan sendirinya meski tidak dibakar. Karena bergesekan dengan ranting saja lahan gambut bisa terbakar. Itu sih info yang saya dapat, bener gak ya?? Kalo kurang tepat mohon koreksi dong, hehee...

Lalu apa yang dapat kita lakukan dengan bencana kabut asap ini?
Sebenarnya sih ini sudah problem nasional ya, karena bukan hanya di Sumatera, tapi juga di Kalimantan dan beberapa daerah lainnya terjadi hal yang sama. Seperti yang kita ketahui, bahwa Pemerintah Provinsi Sumsel sudah melakukan berbagai upaya untuk memadamkan api dengan cara melibatkan masyarakat maupun pemadaman dari udara dan waterbombing. Dan juga pihak Kepolisian telah menangkap sejumlah orang yang diduga terlibat membakar hutan, dan juga saya sering melihat Helikopter TNI-AU yang terbang dengan membawa air yang katanya dengan muatan 3 ton sekali berangkat untuk memadamkan api, dan juga Helikopter yang membawa garam (katanya gitu,, hehee...) untuk membuat hujan buatan.

Dulunya tempat ini sangat sejuk dipagi hari, namun sekarang rindangnya pepohonan sudah kalah dengan kabut asap
Jadi, saya sebagai masyarakat biasa mengajak kita semua untuk berdoa dan berharap pada Pemerintah untuk segera dapat menemukan solusi terbaik untuk menyelesaikan permasalahan ini. Dan juga, jangan menambah masalah yang ada ya, apa misalnya?? Seperti menambah asap dengan melakukan pembakaran,..loh...saya kan gak punya hutan..??? Iya sih kamu gak punya hutan, tapi terkadang kamu kurang sadar lingkungan dengan membakar sampah...benar tidak??? Hehee....kadang aku juga melakukan itu..hihi....
karena dengan membakar sampah pun kita sudah menyumbang asap dan polusi udara, alangkah baiknya sekarang kita membuang sampah pada tempatnya,  dan juga sekarang sudah ada dari Pemerintah maupun Swasta yang melakukan pengolahan sampah. Kalau dirumahku sih ada tukang angkut sampah, 2 hari sekali dan membayar Rp.20.000 perbulan, cukup murah bukan....daripada kita membakarnya dan mecemari polusi udara...hehe....

Aahhh sebenarnya apa yang aku tulis ini nyambung apa gak ya??? Dari asap...ke sampah....
hehee....
Maklum aja lah ya ini lagi belajar nulis....mohon maaf jika ada kesalahan dan mohon koreksinya....terima kasih....

2 comments:

  1. Semoga Allah segera menurunkan hujan agar masyarakat di Sumatra segera bisa menikmati udara segar lagi, aminnn

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin....makasih atensi nya mbak fitrina....

      Delete