Winnie The Pooh

Tuesday, 17 September 2019

Kota Palembang ku, bagaikan Negeri di atas Awan

Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, namun di jalanan masih agak gelap serasa masih subuh, iya....karena kota ini masih diselimuti kabut asap tebal yang membuat sesak dada ini, bukan sesak karena sakit ditinggalkan kekasih, namun sesak karena kabut asap. Hemmm....
Jembatan AMPERA serasa diatas awan
Matahari sudah menampakkan wajahnya. Akan tetapi sinarnya masih terhalang oleh kabut asap yang tebal, sehingga dia nampak seperti sedang bersembunyi di balik awan.

Sepanjang perjalanan menuju ke kantor... mata terasa pedas, tapi bukan pedas karena sambal, ini pedas karena kabut asap..huhuu...
Matahari pun tertutup kabut asap
Kabut asap yang semakin pekat disebabkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), menyelimuti Palembang, Sumatera Selatan.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kabut Asap Makin Tebal dan Berbahaya, Siswa di Palembang Diliburkan", https://palembang.kompas.com/read/2019/09/17/15413791/kabut-asap-makin-tebal-dan-berbahaya-siswa-di-palembang-diliburkan.
Penulis : Kontributor Palembang, Aji YK Putra
Editor : David Oliver Purba
Kabut asap yang semakin pekat disebabkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), menyelimuti Palembang, Sumatera Selatan.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kabut Asap Makin Tebal dan Berbahaya, Siswa di Palembang Diliburkan", https://palembang.kompas.com/read/2019/09/17/15413791/kabut-asap-makin-tebal-dan-berbahaya-siswa-di-palembang-diliburkan.
Penulis : Kontributor Palembang, Aji YK Putra
Editor : David Oliver PurbaK
Kabut asap yang semakin pekat ini disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah Sumatera. Pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyebut, jumlah titik api atau hotspot di Indonesia tahun ini lebih banyak dibanding tahun lahu. Di seluruh Indonesia, berdasarkan data BNPB, ada 2.862 titik api.

Berdasarkan data terakhir dan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), terdeteksi asap di wilayah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat. Kemudian Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Semenanjung Malaysia, Serawak Malaysia dan Singapura.

Untuk wilayah Sumatera Selatan, luas lahan dan hutan yang terbakar sebesar 11.826 hektare. Diketahui, terdapat 472 titik api disana. Wilayah ini masuk dalam kategori tidak sehat dengan indeks AQI sebesar 553. Status siaga darurat ditetapkan sejak 8 Maret sampai dengan 31 Oktober 2019. 
Sungguh...bagaikan negeri diatas awan..
Wah wah...ternyata di tahun ini kejadian kabut asap lebih parah ya dari tahun sebelumnya. Kita hanya bisa berdoa dan menunggu dari Pemerintah semoga bisa mengatasi masalah kabut asap ini. Mari kita jaga kesehatan, upayakan mengurangi aktivitas dan kegiatan sehari-hari diluar rumah. Jika keadaan darurat mengharuskan untuk bepergian, gunakan selalu masker. Bila dirasa kondisi tubuh mulai sulit bernapas dan gangguan kesehatan lain, segera bawa ke dokter atau klinik terdekat. Jangan lupa juga banyak minum air putih dan makan buah untuk menjaga sistem kekebalan imunitas dalam tubuh.Yuk...jaga kesehatan dari bahaya kabut asap.

6 comments:

  1. Sedih banget sama keadaan ini, gak tega juga sama orang tua dan anak-anak yang sudah sensitif sekali pernapasannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, kalo kondisi gini lebih baik orang tua dan anak-anak tetap di dalam rumah.

      Makasih atas kunjungan nya Mbak...

      Delete
  2. Betul Murni, pagi ini kabut asap pekat sekali.. Kudu pakai masker ya kalo ada aktivitas di luar..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ibuk, kudu pakai masker kalo mau aktivitas di luar.

      Delete
  3. Salam sesama blogger Sumatera Selatan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kembali Kak...

      Makasih atas kunjungan nya ya...

      Delete

Terima kasih telah berkunjung...